Kang Dede Tagih Janji Presiden Jokowi untuk Sediakan 10 Juta Lapangan Kerja

/ Jumat, 13 Januari 2017 / 19.00
JAKARTA|
Ktua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf saat rapat Paripurna DPR RI, menyampaikan beberapa hal yang amat genting bagi stabilitas Indonesia pada tahun 2017, yaitu beban hidup rakyat yang semakin berat. Bahkan, dirinya menagih janji kepada Presiden Jokowi untuk menyediakan 10 juta lapangan kerja yang katanya prioritas penting.





"Pemerintah telah mengeluarkan berbagai paket kebijakan ekonomi untuk memperbaiki nasib rakyat, tapi realitanya tidak sesuai harapan," kata Dede Yusuf sebelum Sidang Paripurna dibuka oleh Ketua DPR RI Setya Novanto,baru-baru ini.

Kang Dede sapaan bekas aktor laga itu pun membeberkan, data BPS 2016 menyebutkan angka pengangguran masih tetap tinggi yaitu 7 juta orang. Karena itu, melalui forum terhormat ini, DPR harus mengingatkan pemerintah bahwa janji menyediakan 10 juta lapangan pekerjaan merupakan prioritas yang sangat penting.

"Sekarang ini, pengangguran menyebabkan kemiskiban, instabilitas kemanan, rentannya gesekan horizontal di masyarakat," ujarnya mengingatkan.

Lebih lanjut politisi Partai Demokrat ini mengatakan, jutaan orang yang menganggur jika tidak segera mendapatkan pekerjaan akan mudah terjerumus kepada hal-hal yang tidak diinginkan, salah satunya adalah menyebarkan berbagai hoax di media sosial.

"Orang yang menganggur adalah orang yang lapar, mereka mudah termakan oleh berbagai hoax. Maka percuma jika pemerintah gencar memerangi hoax tapi tidak gencar menyelesaikan pengangguran," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Kang Dede juga menyampaikan prihal merebaknya berbagai temuan Tenaga Kerja Asinga (TKA) yang berpaspor sebagai turis dan membuat rakyat khususnya mereka yang menganggur menjadi panik dan kuatir semakin sulit mendapat pekerjaan.

"Kami menyambut baik langkah pemerintah membentuk Satgas sebagaimana rekomendasi Panja yang dibentuk Komisi IX DPR , namun perlu juga pahami bersama bahwa persoalan mendasar dari keresahan rakyat saat ini adalah masih sulitnya mendapatkan pekerjaan," tambahnya mengingatkan.

Menurut data BPS 2016, penduduk yang bekerja di sektor pertanian turun dari 40,12 juta orang menjadi 38,29 juta orang begitu pula yang bekerja di sektor industri juga mengalami penurunan dari 16,38 juta orang menjadi 15,97 juta orang.

"Artinya, sektor pertanian dan industri tidak mampu lagi menyerap para pengangguran. Ini kondisi bahaya karena semestinya pengangguran bisa terserap di kedua sektor tersebut," ujarnya.

Dede juga menyoroti fenomena yang dinilainya mengkhawatirkan yaitu makin banyaknya sarjana yang menganggur. BPS menyebutkan tingkat pengangguran lulusan universitas pada 2016 meningkat 5,34 persen menjadi 6,22 persen.

"Akibatnya banyak sarjana yang terpaksa menjadi sopir transportasi online demi menyambung hidup," bebernya.

Persoalan utama adalah karena pemerintah belum mampu menyediakan 10 juta lapangan pekerjaan untuk rakyat sebagaimana yang pernah dijanjikan. Yang dibutuhkan saat ini, menurut Dede Yusuf adalah lapangan pekerjaan untuk rakyat kita sendiri, bukan lapangan pekerjaan untuk rakyat negara lain.

"Jika pemerintah tak bisa segera menepati janji 10 juga lapangan sangat dikuatirkan akan memicu gejolak masyarakat karena mereka tidak menjadi tuan di negaranya sendiri," katanya.

Termasuk menurut Dede Yusuf persoalan TKA ilegal agar pemerintah jangan menganggap sepele karena jika tidak ditangani secara serius maka lapangan pekerjaan akan direbut oleh pekerja asing sehingga rakyat menganggur dan semakin tersisih. (BB/Bdr)
Komentar Anda

Berita Terkini